Conditional Sentence

Conditional Sentence

Type 1: Future Conditional Sentence

If + Subject + Verb 1/Verb-s/es

(Present Tense)

Subject + will + Verb 1

(Future Tense)

Subject + will + Verb 1

(Future Tense)

If + Subject + Verb 1/Verb-s/es

(Present Tense)

Contoh:
1. If I have time, I will go to Bali for summer holiday

  1. I will go to Bali for summer holiday, if I have time

Type 2: Present Conditional Sentence

If + Subject + Verb 2

(Past Tense)

Subject + Would + Verb 1

(Past Future Tense)

Subject + Would + Verb 1

(Past Future Tense)

If + Subject + Verb 2

(Past Tense)

Contoh:

  1. If I had time, I would go to Bali for summer Holiday
  2. I would go to Bali for summer holiday, if I had time

Type 3: Past Conditional Sentence

If + Subject + had + Verb 3

(Past Perfect Tense)

Subject + would/could/might + have + Verb 3

(Past Future Perfect Tense)

Subject + would/could/might + have + Verb 3

(Past Future Perfect Tense)

If + Subject + had + Verb 3

(Past Perfect Tense)

Adjective And Noun Clause

NOUN CLAUSE

Noun Clause adalah anak kalimat yang berfungsi sebagai kata benda. Karena itu, posisinya dalam kalimat juga sama dengan noun pada umumnya. Noun clause bisa berposisi sebagai Subject maupun Object kalimat. Ia juga bisa berposisi sebagai preposisi

  1. Noun Clause sebagai Subject
NOUN CLAUSE

(relative pronoun + S + V)

BE + COMPLEMENT
What you know is not the reality
That many people don’t like the story is not my problem
NOUN CLAUSE

(relative pronoun + S + V)

VERB COMPLEMENT
That you want to help me makes me happy
Who will come to you tonight will become your assistant in the future
  1. Noun Clause sebagai Object
SUBJECT + BE NOUN CLAUSE

(relative pronoun + S + V)

This is what I want you to do
Andri is very good at how to modify an old machine
SUBJECT + VERB NOUN CLAUSE

(relative pronoun + S + V)

Everyone likes how you speak English
I don’t know what you mean

ADJECTIVAL CLAUSE

Adjectival clause adalah anak kalimat yang berfungsi sebagai kata sifat. Karena itu, sebagai kata sifat, adjectival clause berfungsi mendeskripsikan atau menerangkan kata benda (noun) maupun kata ganti (pronoun). Adjectival clause bisa diletakkan di mana saja dalam kalimat, tergantung pada kata benda atau kata ganti yang diterangkan.

  1. Angga bought a car. The car cost fifty million rupiahs.
  2. Angga bought a car which cost fifty million rupiahs.

Note: Adjective clause dalam kalimat ini menjelaskan objek kalimat pertama,   yakni a car. Relative pronoun which berfungsi menggantikan subjek kalimat kedua, yakni the car.

  1. Andi is the man. We are going to recommend Andi for the job.
  2. Andi is the man whom we are going to recommend for the job.

Note: Adjective clause dalam kalimat ini menjelaskan kata benda the man pada kalimat pertama. Relative pronoun whom berfungsi menggantikan objek kalimat kedua, yakni Andi

  1. The dentist is with a child. The child’s teeth are causing some problems.
  2. The dentist is with a child whose teeth are causing some problems.

Note: Adjective clause dalam kalimat ini menjelaskan kata benda the child yang  menjadi objek preposisi apda kalimat pertama. Relative pronoun whose berfungsi menggantikan kepemilikan (possession) pada kalimat kedua, yakni the child’s.

Reference:

Tumijo, S.pd., M. Hum dan Drs. Slamet Riyanto, M.Pd. 2011. 99,99% Sukses TOEFL. Penerbit Pustaka Widyatama

Kejahatan Korporasi Kasus Pencucian Uang/Pembobolan Dana Nasabah Citibank

Setelah digegerkan oleh kasus Bank Century beberapa waktu lalu, kali ini Indonesia kembali digegerkan dengan pembobolan dana nasabah Citibank. Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Polri menahan tersangka Inong Malinda Dee berusia 47 tahun yang menjabat sebagai Senior Relationship Manager di Citibank, karena diduga melakukan tindak pidana perbankan dan pencucian uang dari uang nasabah yang dipegangnya. Dana nasabah itu lalu dialirkan ke berbagai rekening milik Malinda maupun perusahaan.

Salah satu perusahaan yang menerima aliran dana itu yakni PT Sarwahita Global Management. Pejabat Citibank yang diduga turut terlibat mendirikan PT Sarwahita Global Management (SGM) bersama Malinda Dee telah diberhentikan sementara waktu oleh pihak Citibank. Pejabat tersebut adalah Reniwaty Hamid.

Sementara itu, dua orang lainnya yang juga diduga turut mendirikan PT Sarwahita Global Management yakni Gesang Situmorang dan Dennis Roy Sangkilawang sudah tidak lagi menjadi pejabat Citibank. Gesang telah pensiun sementara Dennis telah mengundurkan diri. Polri menetapkan status saksi pada Reniwati Hamid dalam kasus pencucian uang dengan tersangka Malinda Dee. Polri mengaku masih fokus kepada Malinda dan belum membidik direksi PT Sarwahita lainnya.

Malinda dilaporkan oleh Citibank karena adanya pengaduan atau keluhan tiga nasabah bank tersebut yang kehilangan uang, sehingga total kerugian sementara yang di alami tiga nasabah sebesar Rp16,6 miliar. Wanita yang lahir di Pangkal Pinang pada 5 Juli 1965, sudah 20 tahun bekerja di bank milik Amerika Serikat dan telah tiga tahun melakukan aksi kejahatan perbankan tersebut. Citibank mengakui terbongkarnya dugaan kejahatan pembobolan dana nasabah oleh Malinda Dee bukan temuan audit internal perusahaan tapi laporan nasabah.

Direktur Kepatuhan Citibank Yesica Effendi menceritakan kronologi terbongkarnya kasus ini bermula pada 9 februari 2001 di mana seorang nasabah menanyakan kepada Malinda Dee tentang berkurangnya dana pada rekening oleh transaksi yang tidak dikenali.

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Kadiv Humas) Polri, Irjen Pol Anton Bachrul Alam mengatakan modus yang dilakukan Malinda dengan sengaja telah melakukan pengaburan transaksi dan pencatatan tidak benar terhadap beberapa “slip transfer”. Seorang “teller” Citibank yang berinisial D telah ditetapkan sebagai tersangka dan dua kepala “teller” Citibank Landmark yang berinisial W dan N sudah dimintai keterangan, sementara pihak-pihak yang diduga terlibat kasus ini juga terus dikejar. Sedangkan saksi-saksi yang telah diperiksa hingga kemarin ada 25 orang. Anton merinci saksi-saksi itu tiga orang nasabah Citibank yang melaporkan aksi Malinda ke bank, 18 karyawan Citibank, dan sisanya berasal dari PT Sarwahita Global Management.

Malinda mengatakan, Citibank telah menampung dana pencucian uang nasabah Malinda selama 10 tahun. Dan selama itu pula para atasan Malinda di Citibank cabang Landmark sangat mengetahui apa yang dilakukan Malinda terhadap uang nasabahnya. Pasalnya Malinda menjadi perpanjangan tangan nasabah untuk mencuci uang tabungan tersebut. Malinda akan menawarkan jasa lain dengan memindahkan rekening nasabah ke bisnis lain seperti asuransi dan produk Citibank lainnya.

Dari pencucian uang nasabah ke bisnis lain, nasabah akan mendapatkan keuntungan. Kartu identitas (KTP) lebih dari satu jadi sarana Malinda Dee melancarkan aksi penggelapan dana nasabah dan pencucian uang yang dipraktikkan di delapan bank dan dua perusahaan asuransi. Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Yunus Husein mengatakan, pihaknya menemukan 28 transaksi mencurigakan dengan rekening atas nama Malinda Dee, tersangka penggelapan uang Citibank dan pencucian uang. Yunus Husein sebelumnya membenarkan ada mantan pejabat yang dikerjai Malinda. Namun, sang mantan pejabat yang kini telah pensiun itu tidak melapor ke polisi. Sementara itu, Kapolri Jenderal Pol Timur Pradopo memilih merahasiakan identitas sang mantan pejabat itu.

Berdasarkan keterangan Polri, ada 3 nasabah Malinda yang menjadi korban. Mereka sudah menjalani pemeriksaan. Polri juga pernah menyampaikan total uang yang dikuras, untuk sementara mencapai Rp 17 miliar. Polri juga sudah menyita 4 mobil mewah dan rekening milik Malinda senilai Rp 11 miliar.

Malinda dijerat pasal pencucian uang dan penggelapan. Mobil mewah masing-masing mobil, Ferrari merah seri F430 Scuderria,  Mercedez Benz warna putih dengan seri E350 dua pintu  dan Ferrari merah bernopol B 125 Dee seri California dan telah dititipkan di Rumah Penitipan Barang Sitaan (Rupbasan). Mobil disita dari apartemen Pacific Place dan di Capital Residence, mungkin ada satu mobil yang dikejar yakni Alphard. Selain itu, diduga Malinda juga memiliki tiga unit apartemen salah satunya di SCBD. Baik mobil mewah dan apartemen milik Malinda dibeli secara kredit.

PELANGGARAN ETIKA BISNIS DALAM PERIKLANAN – Analisis Kasus pada Iklan Garuda Indonesia 2014

Definisi Iklan

Pesan komunikasi pemasaran atau komunikasi publik tentang sesuatu produk yang disampaikan melalui sesuatu media, dibiayai oleh pemrakarsa yang dikenal serta ditujukan kepada sebagian atau seluruh masyarakat.

Menurut Thomas M. Garret, SJ, iklan dipahami sebagai aktivitas-aktivitas yang lewatnya pesan-pesan visual atau oral disampaikan kepada khalayak dengan maksud menginformasikan atau memengaruhi mereka untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi, atau untuk melakukan tindakan-tindakan ekonomi secara positif terhadap idea-idea, institusi-institusi atau pribadi-pribadi yang terlibat di dalam iklan tersebut. Untuk membuat konsumen tertarik, iklan harus dibuat menarik bahkan kadang dramatis. Tapi iklan tidak diterima oleh target tertentu (langsung). Iklan dikomunikasikan kepada khalayak luas (melalui media massa komunikasi iklan akan diterima oleh semua orang, semua usia, golongan, suku, dsb). Sehingga iklan harus memiliki etika, baik moral maupun bisnis.

Menurut kamus Istilah Periklanan Indonesia, iklan adalah pesan komunikasi dari produsen/pemberi jasa kepada calon konsumen di media yang pemasangannya dilakukan atas dasar pembayaran. Periklanan adalah proses pembuatan dan penyampaian pesan yang dibayar dan disampaikan melalui sarana media massa yang bertujuan menunjuk kosumen untuk melakukan tindakan membeli/mengubah perilakunya.

Iklan adalah salah satu media promosi yang banyak digunakan oleh pihak Industri untuk mengenalkan produk-produk yang dihasilkannya kepada masyarakat luas. Iklan tersebut dapat dimuat di media elektronik seperti tv, radio, internet, dsb dan media cetak seperti koran, majalah, tabloid, dsb.

Keuntungan dari adanya iklan, yaitu:

  • Adanya informasi kepada konsumer akan keberadaan suatu produk dan “kemampuan” produk tersebut. Dengan demikian konsumer mempunyai hak untuk memilih produk yang terbaik sesuai dengan kebutuhannya.
  • Adanya kompetisi sehingga dapat menekan harga jual produk kepada konsumen. Tanpa adanya iklan, berarti produk akan dijual dengan cara eksklusif  (kompetisisi sangat minimal) dan produsen bisa sangat berkuasa dalam menentukan harga jualnya.
  • Memberikan subsidi kepada media-massa sehingga masyarakat bisa menikmati media-massa dengan biaya rendah. Hampir seluruh media-massa “hidup” dari iklan (bukan dari penghasilannya atas distribusi media tersebut). Munculnya media-media gratis memperkuat fakta bahwa mereka bisa mencetak dan mendistribusikan media tersebut karena adanya penghasilan dari iklan.

ETIKA PARIWARA INDONESIA (EPI)

(Disepakati Organisasi Periklanan dan Media Massa, 2005). Berikut ini kutipan beberapa etika periklanan yang terdapat dalam kitab EPI.

Tata Krama Isi Iklan

Dari berbagai tata karma isi iklan, dalam hal ini yaitu Merendahkan dimana iklan tidak boleh merendahkan produk pesaing secara langsung maupun tidak langsung.

Di dalam iklan maskapai Garuda Indonesia, terlihat bahwa iklan ini menampilkan perbandingan antara produk dari pelayanan maskapai Garuda Indonesia dengan produk pelayanan dari maskapai lain yang bercirikan warna merah sebagai ciri khas maskapai tersebut. Dalam iklan tersebut dapat dilihat juga bahwa perbandingan tersebut secara tidak langsung bermaksud merendahkan produk pelayanan dari maskapai lain.  Meskipun strategi iklan yang dibuat oleh Garuda  Indonesia yang menampilkan bahwa kenyamanan dari konsumen menjadi tujuan utama yang dapat mereka berikan, namun dengan menyertakan dalam iklanya produk pesaing yang sejenis ini merupakan salah satu pelanggaran etika dalam beriklan. (Angga)

iklan garuda 1 garuda 2

Daftar Pustaka

http://indah-widjaya.mhs.narotama.ac.id/2013/11/18/etika-bisnis-periklanan/

http://dedewulan90.wordpress.com/2011/11/21/periklanan-dengan-menggunakan-etika-bisnis-grup/

http://sofia.mhs.narotama.ac.id/2012/12/27/etika-bisnis-periklanan/

Review Jurnal Etika Bisnis

Pengaruh Etika Bisnis Terhadap Kejahatan Korporasi dalam Lingkup Kejahatan Bisnis

Oleh : Elfina Lebrune S, Universitas Surabaya

Perkembangan korporasi pada permulaan jaman modern dipengaruhi oleh bisnis perdagangan yang sifatnya makin kompleks. Pertumbuhan korporasi di tanah air semakin meningkat dalam berbagai usaha. Berbagai produk dan jasa dihasilkan dalam jumlah besar, begitu pula ribuan dan bahkan jutaan orang terlibat dalam kegiatan korporasi. Dengan memasarkan produknya, maka korporasi sekaligus mempengaruhi dan ikut menentukan pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa, sebab dalam kenyataannya bukan produsen yang harus menyesuaikan permintaan konsumen, akan tetapi justru sebaliknya konsumen yang akan menyesuaikan kebutuhannya dengan produk – produk yang dihasilkan oleh korporasi. Perkembangan yang pesat dari korporasi ini terutama dipengaruhi oleh perubahan dan perkembangan masyarakat itu sendiri, yakni perkembangan masyarakat agraris ke masyarakat industri dan perdagangan (internasional) pada dasawarsa terakhir ini.

Pertumbuhan korporasi di tanah air semakin meningkat dalam berbagai usaha. Berbagai produk dan jasa dihasilkan dalam jumlah besar, begitu pula ribuan dan bahkan jutaan orang terlibat dalam kegiatan korporasi. Dengan memasarkan produknya, maka korporasi sekaligus mempengaruhi dan ikut menentukan pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa, sebab dalam kenyataannya bukan produsen yang harus menyesuaikan permintaan konsumen, akan tetapi justru sebaliknya konsumen yang akan menyesuaikan kebutuhannya dengan produk-produk yang dihasilkan oleh korporasi.

Indonesia saat ini dilanda kriminalitas kontemporer yang mengancam lingkungan hidup, sumber energi dan pola-pola kejahatan di bidang ekonomi seperti kejahatan Bank, kejahatan komputer, penipuan terhadap konsumen berupa barang-barang produksi kualitas rendah yang dikemas indah dan dijajakan lewat iklan besar-besaran dan berbagai pola kejahatan korporasi lainnya. Modus operandi yang digunakan untuk melakukan kejahatan tersebut dahulu tidak dikenal dan tidak pernah dipikirkan oleh para pelaku kejahatan, namun saat ini menjadi suatu “trend” modus kejahatan.

Kesimpulan:

Sektor korporasi yang mampu berperan positif bagi pembangunan nasional adalah sektor korporasi yang merupakan aset nasional dan bukan korporasi yang hanya menjadi beban dan parasit masyarakat. Kelompok sektor korporasi ini adalah kelompok yang patuh etika bisnis, misalnya patuh pada tata kelola korporasi yang baik, taat pada aturan main persaingan bisnis yang sehat, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan kata lain, peran positif terhadap pembangunan nasional ini menunjuk pada korporasi yang mampu mempraktekkan prinsip etika bisnis dan juga prinsip good corporate governance dalam menjalankan kegiatan bisnisnya.

Perusahaan yang ingin mencatat sukses dalam bisnis membutuhkan 3 (tiga) hal pokok, yakni: produk yang baik dan bermutu, manajemen yang mulus dan etika. Produk yang baik serta manajemen yang mulus merupakan hal yang dapat dicapai dengan memanfaatkan seluruh perangkat ilmu dan teknologi modern, serta memakai ilmu ekonomi dan teori manajemen, sedangkan perhatian terhadap etika dalam bebrbisnis masih sangat minim atau dapat dikatakan tidak mendapatkan perhatian yang serius.

Pembaharuan hukum dapat menciptakan insentif atau dorongan bagi publik untuk ikut memperhatikan perilaku korporasi. Dalam hal ini, masyarakat sebagai stakeholder dari korporasi dapat pula menjadi sarana pengawasan terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh korporasi.

Etika Bisnis Islami Dalam Praktek Bisnis Rasulullah

Oleh : Muhammad Saifullah, IAIN Walisongo Semarang

 Selama ini banyak orang memahami bisnis adalah bisnis, yaitu tujuan utamanya memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Hukum ekonomi klasik yang mengendalikan modal sekecil mungkin dan mengeruk keuntungan sebesar mungkin telah menjadikan para ‘pelaku bisnis’ menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan, mulai dari cara memperoleh bahan baku, bahan yang digunakan, tempat produksi, tenaga kerja, pengelolaannya, dan pemasarannya dilakukan seefektif dan seefisien mungkin. Hal ini tidak mengherankan jika para pelaku bisnis jarang memperhatikan tanggungjawab sosial dan mengabaikan etika bisnis.

Etika bisnis dalam studi Islam ini kajiannya lebih didasarkan pada Al-Qur’an. Padahal Muhammad dalam tinjauan sejarah dikenal sebagai pelaku bisnis yang sukses, sehingga kajian tentang etika bisnis perlu melihat perilaku bisnis Muhammad semasa hidupnya.

Kesimpulan dari jurnal tersebut ialah dapat ditemukan bahwa etika bisnis yang dimiliki Nabi Muhammad SAW adalah bersikap jujur, amanah, tepat dalam menimbang, menjauhi gharar, tidak menimbun barang, tidak melakukan al-ghab dan tadlis, dan saling menguntungkan antara penjual dan pembeli. Pola bisnis yang dipraktikan Nabi Muhammad SAW ini tentu perlu diadaptasi oleh para pebisnis di masa kini yang terkadang mudah keluar dari etika-etika seperti yang dipraktikan oleh Nabi SAW.

Etika Bisnis dan Keadilan Konsumen

Oleh : Rodhiyah

 Bisnis merupakan kegiatan ekonomis yang meliputi kegiatan tukar menukar, jual-beli, memproduksi-memasarkan, bekerja-mempekerjakan, dan interaksi manusiawi lainnya dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan atau memaksimalkan keuntungan dan memaksimalkan kemakmuran.

Bisnis juga merupakan kegiatan antar manusia, dalam upaya mencari keuntungan bisnis tidak bersifat sepihak, tetapi diadakan dalam interaksi, dan sebagai komunikasi sosial yang saling menguntungkan kedua belah pihak yang terlibat di dalamnya. Jika di lihat dari kacamata ekonomis, bisnis yang baik adalah bisnis yang dapat menghasilkan keuntungan maksimal, akan tetapi bisnis juga dilihat dari segi moral yaitu perilaku sesuai dengan norma-norma moral, suatu perbuatan dapat dinilai baik jika memenuhi standar etis, demikian juga tidak kalah pentingnya bahwa bisnis juga bisa dilihat dari kacamata hukum, yaitu “bisnis yang baik” yaitu bisnis yang patuh pada hukum.

Bisnis yang ber”etika” merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kegiatan bisnis itu sendiri, karena tujuan dari bisnis tidak hanya semata memaksimalkan keuntungan saja yang akan mengakibatkan timbulnya keadaan yang tidak etis tetapi juga harus memperhatikan lingkungan bisnis.

Kesimpulan :

Bisnis tidak dapat dilepaskan dari aturan-aturan atau norma-norma moral yang selalu harus diterima dalam masyarakat atau dalam pergaulan sosial. Keutamaan pebisnis meliputi : kejujuran, fairness, kepercayaan dan keuletan disamping keutamaan lain bagi pebisnis adalah keramahan, loyalitas, kehormatan dan rasa malu. Moralitas merupakan syarat yang harus diakui semua orang, jika ingin terjun dalam kegiatan bisnis.

Daftar Pustaka:

http://eprints.walisongo.ac.id/1942/1/Saifullah-Etika_bisnis_Islami.pdf

https://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0CB4QFjAA&url=http%3A%2F%2Fejournal.undip.ac.id%2Findex.php%2Fforum%2Farticle%2Fdownload%2F3160%2F2836&ei=aTtOVNXYFMHN8gX9_IHYBQ&usg=AFQjCNHC5X7EX68eVzpSIbUrjZ4irJk__w&bvm=bv.77880786,d.dGc

Dampak Negatif Televisi Terhadap Berfikir dan Bernalar

    Minat membaca kian menurun seiring dengan perkembangan zaman di era milineum ini. Hal ini salah satunya bisa disebabkan oleh kemajuan di bidang tekonologi. Dengan menurunya minat membaca, itu juga bisa menyebabkan tingkat berpikir dan bernalar menurun. Penurunan tingkat berpikir dan bernalar ini karena menurut Indikator Biro Pusat Statistik menyebutkan bahwa hanya 18,94% penduduk Indonesia di atas usia 10 tahun yang mendapatkan informasi dengan membaca, terpaut jauh dengan yang mendapat informasi dari televisi yang mencapai 90.27%, demikian menurut siaran pers yang diterima Parent’s Guide (http://parentsguide.co.id/). Informasi melalui televisi umumnya tidak perlu untuk membaca, melainkan seseorang hanya perlu mendengar dalam menerima informasi tersebut. Penalaran sangat jarang dimaksimalkan ketika kita menerima informasi melalui televisi, karena televisi telah menampilkan gambaran visualisasi yang cukup jelas.

    Menurut Dr. Robert Friedland, dokter spesialis saraf dari Case Western University Hospital of Medicine, AS, menyebutkan bahwa penderita alzheimer (penyakit lupa kronis), dan penyakit pikun dapat diakibatkan oleh jarangnya mengisi waktu luang dengan aktivitas fisik atau mental yang bermanfaat, terlalu banyak didepan televisi atau komputer. Fakta menunjukkan, otak yang jarang diajak berpikir dan diberi stimulasi dapat menyebabkan penurunan fungsi otak yang lebih cepat, termasuk pula penurunan daya ingat yang berujung pada penyakit pikun (http://artikelbahasaindonesia.org/).

    Dalam kasus di atas terdapat dua akibat yang keduanya disebabkan oleh dampak negatif dari televisi. Berpikir dan bernalar dalam pemakaian sehari – hari, kata berpikir sering disamakan dengan bernalar atau berpikir secara diskursif dan kalkulatif. Menurut Sudarminta, sesungguhnya berpikir lebih luas dari sekedar bernalar (Basis 05 – 06, 2000 : 54). Seperti dikemukakan oleh Habermas, selain rasionalitas ilmiah – teknologis, masih ada rasionalitas tindakan komunikatif. Definisi yang paling umum dari berfikir adalah perkembangan ide dan konsep. Berfikir adalah suatu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah pada suatu tujuan. Kita berfikir untuk menemukan pemahaman atau pengertian yang kita inginkan. Ciri – ciri terutama dari berfikir adalah adanya abstraksi ( Purwanto, 1998:43). Abstraksi dalam hal ini berarti anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda – benda, kejadian – kejadian, situasi – situasi yang mula – mula dihadapi sebagai kenyataan. Berfikir merupakan daya yang paling utama serta merupakan ciri yang khas yang membedakan manusia dan hewan (http://viecenut.blogspot.com/)

    Menurut Poespoprodjo dan Gilarso (1985:8) penalaran adalah suatu penjelasan yang menunjukan kaitan antara dua hal atau lebih yang berdasarkan alasan dan langkah tertentu dengan tujuan untuk mencapai simpulan. Adapun menurut Shurter dan Pierce (1966:91) mengungkapkan bahwa penalaran adalah suatu proses pencapaian simpulan yang logis berdasarkan relevansi anatara fakta dan tindakan. Dengan demikian, berdasarkan konsep tersebut dalam penalaran terkandung factor logika, alur berpikir tertentu, fakta, tujuan tertentu dan sifat analistis. Oleh sebab itu, Suriasumantri (1985:43) menegasakan cirri utama penalaran adalah dalam proses berpikir logis dan analistis (http://riantiriri10.blogspot.com/). Sebagai contoh, kita tahu bahwa semua pohon semangka di kebun kita adalah semangka yang disediakan di ruang makan itu diambil dari kebun kita (http://kulpulan-materi.blogspot.com/).

    Logika atau berpikir logis merupakan salah satu ciri manusia berpikir, setiap bahasa yang diutarakannya didasarkan pada logika yang benar. Sederhananya, logika tergantung cara kita mengambil kesimpulan yang berpangkal pada penalaran. Adapun penalaran merupakan proses berpikir untuk mendapatkan pengetahuan. Tujuannya supaya segala sesuatu yang dipikirkan dapat diluruskan, sehingga menghasilkan ketepatan berpikir. Manusia melakukan aktivitas berpikir karena memiliki wawasan dan pengetahuan.

    Dari hal tersebut kita dapat mengetahui apa perbedaan dari kegiatan berpikir dan bernalar. Keduanya terjadi secara bersamaan ketika kita melakukan komunikasi baik verbal maupun nonverbal. Jadi ketika seseorang berpikir dan bernalar maka baik pula kegiatan komunikasi yang dilakukannya. Sebaliknya seseorang yang sering menonton televisi tanpa batas waktu yang akan memberikan dampak negatif, dapat dikatakan seseorang tersebut kurang baik dalam melakukan komunikasi. Memang berkomunikasi terlihat mudah, namum berkomunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.

 

Sabtu, 18/01/2014

1. Apa yang mempengaruhi dan alasan memutuskan untuk membeli suatu barang?

Jawab: – Harga; – Trend; – Kualitas; – Manfaat/kegunaan

(Harga) Karena, ketika suatu produk dengan kualitas yang dimiliki harus sesuai dengan harga yang diberikan. Namun tinggi/rendahnya harga tetap menjadi pertimbangan dalam keputusan membeli.

(Trend) Karena zaman/kehidupan terus berkembang. Sebagai manusia kita dapat dikatakan perlu mengikuti perkembangan zaman, karena kita tidak boleh berjalan di tempat saja, tidak boleh termakan oleh waktu. Manusia perlu dinamis agar dapat mencapai tujuan hidupnya. Maka dari itu trend mempengaruhi pembelian suatu barang dengan segala fungsi yang dimilikinya.

(Kualitas) Karena kualitas dapat mempengaruhi terhadap pembelian suatu barang dengan kualitas yang buruk tidak akan menarik konsumen untuk membeli produk tersebut.

(Manfaat) Karena dilihat dari berbagai macam produk dipasaran yang melimpah saya sebagai salah satu konsumen yang pintar selalu membeli produk yang sesuai dengan manfaat yang dapat digunakan oleh saya.

2. Bagaiman pendapat anda terhadap perilaku konsumen di Jabodetabek khususnya kota Depok

Jawab: Saya sejujurnya bukan merupakan warga depok. Jika menurut pandangan saya, perilaku konsumen warga depok sudah menunjukan sesuatu kemajuan yang baik. Depok kota yang terus berkembang dengan pesat, ini dapat dilihat dari sudah munculnya perilaku konsumen yang meningkat dalam hal perputaran uang pada saat melakukan pembelian. Faktor lain yang mempengaruhi ialah, pembangunan tempat pembelanjaan seperti mall menunjukan bahwa perilaku konsumen warga depok telah sangat meningkat.  Warga depok berperilaku konsumen sewajar-wajarnya tidak menunjukan sifat hedonisme.