Dampak Negatif Televisi Terhadap Berfikir dan Bernalar

    Minat membaca kian menurun seiring dengan perkembangan zaman di era milineum ini. Hal ini salah satunya bisa disebabkan oleh kemajuan di bidang tekonologi. Dengan menurunya minat membaca, itu juga bisa menyebabkan tingkat berpikir dan bernalar menurun. Penurunan tingkat berpikir dan bernalar ini karena menurut Indikator Biro Pusat Statistik menyebutkan bahwa hanya 18,94% penduduk Indonesia di atas usia 10 tahun yang mendapatkan informasi dengan membaca, terpaut jauh dengan yang mendapat informasi dari televisi yang mencapai 90.27%, demikian menurut siaran pers yang diterima Parent’s Guide (http://parentsguide.co.id/). Informasi melalui televisi umumnya tidak perlu untuk membaca, melainkan seseorang hanya perlu mendengar dalam menerima informasi tersebut. Penalaran sangat jarang dimaksimalkan ketika kita menerima informasi melalui televisi, karena televisi telah menampilkan gambaran visualisasi yang cukup jelas.

    Menurut Dr. Robert Friedland, dokter spesialis saraf dari Case Western University Hospital of Medicine, AS, menyebutkan bahwa penderita alzheimer (penyakit lupa kronis), dan penyakit pikun dapat diakibatkan oleh jarangnya mengisi waktu luang dengan aktivitas fisik atau mental yang bermanfaat, terlalu banyak didepan televisi atau komputer. Fakta menunjukkan, otak yang jarang diajak berpikir dan diberi stimulasi dapat menyebabkan penurunan fungsi otak yang lebih cepat, termasuk pula penurunan daya ingat yang berujung pada penyakit pikun (http://artikelbahasaindonesia.org/).

    Dalam kasus di atas terdapat dua akibat yang keduanya disebabkan oleh dampak negatif dari televisi. Berpikir dan bernalar dalam pemakaian sehari – hari, kata berpikir sering disamakan dengan bernalar atau berpikir secara diskursif dan kalkulatif. Menurut Sudarminta, sesungguhnya berpikir lebih luas dari sekedar bernalar (Basis 05 – 06, 2000 : 54). Seperti dikemukakan oleh Habermas, selain rasionalitas ilmiah – teknologis, masih ada rasionalitas tindakan komunikatif. Definisi yang paling umum dari berfikir adalah perkembangan ide dan konsep. Berfikir adalah suatu keaktifan pribadi manusia yang mengakibatkan penemuan yang terarah pada suatu tujuan. Kita berfikir untuk menemukan pemahaman atau pengertian yang kita inginkan. Ciri – ciri terutama dari berfikir adalah adanya abstraksi ( Purwanto, 1998:43). Abstraksi dalam hal ini berarti anggapan lepasnya kualitas atau relasi dari benda – benda, kejadian – kejadian, situasi – situasi yang mula – mula dihadapi sebagai kenyataan. Berfikir merupakan daya yang paling utama serta merupakan ciri yang khas yang membedakan manusia dan hewan (http://viecenut.blogspot.com/)

    Menurut Poespoprodjo dan Gilarso (1985:8) penalaran adalah suatu penjelasan yang menunjukan kaitan antara dua hal atau lebih yang berdasarkan alasan dan langkah tertentu dengan tujuan untuk mencapai simpulan. Adapun menurut Shurter dan Pierce (1966:91) mengungkapkan bahwa penalaran adalah suatu proses pencapaian simpulan yang logis berdasarkan relevansi anatara fakta dan tindakan. Dengan demikian, berdasarkan konsep tersebut dalam penalaran terkandung factor logika, alur berpikir tertentu, fakta, tujuan tertentu dan sifat analistis. Oleh sebab itu, Suriasumantri (1985:43) menegasakan cirri utama penalaran adalah dalam proses berpikir logis dan analistis (http://riantiriri10.blogspot.com/). Sebagai contoh, kita tahu bahwa semua pohon semangka di kebun kita adalah semangka yang disediakan di ruang makan itu diambil dari kebun kita (http://kulpulan-materi.blogspot.com/).

    Logika atau berpikir logis merupakan salah satu ciri manusia berpikir, setiap bahasa yang diutarakannya didasarkan pada logika yang benar. Sederhananya, logika tergantung cara kita mengambil kesimpulan yang berpangkal pada penalaran. Adapun penalaran merupakan proses berpikir untuk mendapatkan pengetahuan. Tujuannya supaya segala sesuatu yang dipikirkan dapat diluruskan, sehingga menghasilkan ketepatan berpikir. Manusia melakukan aktivitas berpikir karena memiliki wawasan dan pengetahuan.

    Dari hal tersebut kita dapat mengetahui apa perbedaan dari kegiatan berpikir dan bernalar. Keduanya terjadi secara bersamaan ketika kita melakukan komunikasi baik verbal maupun nonverbal. Jadi ketika seseorang berpikir dan bernalar maka baik pula kegiatan komunikasi yang dilakukannya. Sebaliknya seseorang yang sering menonton televisi tanpa batas waktu yang akan memberikan dampak negatif, dapat dikatakan seseorang tersebut kurang baik dalam melakukan komunikasi. Memang berkomunikasi terlihat mudah, namum berkomunikasi hanya akan efektif apabila pesan yang disampaikan dapat ditafsirkan sama oleh penerima pesan tersebut.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s